Senin, (7/4) Diawali menjelang subuh, dering alarm berbunyi, pukul 03.45 wib, waktunya bangun, ahh masih malas, padahal tadi malam tidurnya lumayan awal.. setelah jam 04.10 wib baru loncat dari kasur…ahh telat lagi, padahal mau shalat menjelang subuh dulu atau setidaknya witir, sebelum azan 04.45 wib memanggil- manggil dari mushala sebelah kos, *_* membasuh wajah, dan sikat gigi.. dinginnya air begitu menyejukkan (lumayan, hydroteraphy) sebelum ku menghadap- Nya.
Jam 06.00 wib ada janji, mau jenguk sahabat yang sakit, uhh sebel, padahal ku masih marah gara- gara masalah sms hampir sebulan kemaren!!!, sekarang??? minta maaf aja belum, aku minta maap duluan??? idihh gengsi, bukannya mereka yang salah duluan, setidaknya cowok harus gentle, tapi sekarang mereka dapat musibah, masa’ ku harus keukeh nggak mau ketemu, sampe kapan coba??? tuch kejadian juga dah lama bangets, dan kalo di fikir nggak 100 % kesalahan dari mereka, coba aja aku jujur, atau berani bilang ” afwan mas, aku lagi malas banget garap mading, benar- benar nggak mood”, nahhh yakin dech mereka ngertiin, bukannya dah bertahun- tahun bareng mereka ^-^, ni nggak malah diam- diaman, sms cela- celaan, pake kata- kata kasar segala, rasain lu!!!
Jarum jam hampir menunjukkan pukul 06.00 wib, duhhh hampir mendekati waktu jenguk, malas banget, mau ngomong apa coba, atau apa yang harus kulakukan jika bertemu mereka? senyum- senyum kayak nggak pernah terjadi apa- apa??? atau pura- pura tidur, biar teman kos ku nggak enak ngajakin, ahhh nggak mungkin, bukannya ku bilang aku mau ikut jenguk, ihhh ni gara- gara dengerin nasehatnya Cabi, itu tuch, sahabat dari luar pulau, yang aku nggak pernah ketemu, tapi dah rasa deket banget (alah gombal ^_^).. piye iki??? Allah, rasanya dunia pengen segera berhenti berputar… sebentar aja, ampe tiba- tiba jam 08.00 wib dech, biar nggak jadi jenguk mereka, ahhhhh
Akhirnya… waktu yang ditentuin datang!!! nah lo, dengan langkah gontai, kuayunkan kakiku perlahan, menuju kediaman mereka, Mushala Al Jihad (maklum mahasiswa, bertugas sebagai takmir juga ) bersama 4 teman kos yang lain,, ahhh sampai &-&
Nah, yang kecelakaan 2 orang, sama- sama KaBid (ketua bidang) ku di organisasi yang berbeda, 1 masjid juga… he he
waktu aku datang, mereka tertawaan, sambil teriak- teriak “tuch di jenguk mirza”.. apa kabar za??? (whatsss..) ohh so sweet, ternyata????
semua berjalan lancar, kita ngobrol, tertawaan, dan memplan mau jenguk istri teman yang sakit juga, wihh kembali lagi nech kayak dulu, hobi jalan- jalan!!! INDAHNYA UKHUWAH ^-^
Satu hal yang bisa di ambil pelajaran, ternyata untuk memulai suatu pekerjaan mulia begitu susah, teramat susah..yang di kedepankan hanya emosi sesaat, dan imbasnya? banyak yang terabaikan, termaksud amanah yang bertujuan untuk kepentingan umat, hanya gara- gara masalah pribadi yang sebenarnya intinya KOMUNIKASI. ahhh manusia, menjadi tua adalah keniscayaan, tetapi menjadi dewasa??? belum tentu
Menyesal??? sedikit, lohhh? bagiku inilah proses pembelajaran, mengambil hikmah dari setiap kejadian tiap masalah, moga menjadikan kita semakin dewasa, di tempa menjadi manusia kuat, yang siap menerima tantangan dakwah ke depan yang lebih besar tidak hanya memikirkan nafsu marah, keegoisan atau apalah namanya.
Selanjutnya??? pukul 16.45 wib, perjalanan ke rumah teman yang istrinya sakit Kanker payudara, sudah bertahun- tahun, dan ini hampir mendekati noktah. Dokter sudah angkat tangan dan si ibu hanya terbaring tak berdaya, merintih menahan sakit, dengan rambut sudah botak, dan tulang yang terbungkus kulit, begitu tipis kami masuki kamarnya perlahan, tak lupa mengucap salam, kami ber4.. aku dan teman kosku (my shoulmate,alah) dan 2 orang ikhwan masjid. Bingung mau ngomong apa, si ibu sudah tidak bisa apa- apa, hanya meringis dan berzikir , slang oksigen terpasang untuk membantunya bernafas, kanker telah sampai ke paru- paru, ku pandangi wajahnya, iba, sedih nyampur jadi satu. Aku turun ke lantai, mencoba duduk sambil memegangi tangan kirinya dan mengelusnya, tangan kanannya sudah bengkak, begitu besar, kontras dengan badannya yang begitu kurus dan ringkih, bau busuk menyeruak, memaksa hidungku untuk menghirupnya, aku nggak peduli. Ku genggam erat tangannya, ku elus pergelangannya, ku ingin dia tau, bahwa aku juga turut merasakan penderitaannya, walaupun nggak tau sakitnya seperti apa? ku bacakan ayat kursi padanya, ku yakinkan dia bahwa Allah tidak akan membebani hamba- Nya dengan beban yang hamba- Nya tidak sanggup memikulnya , dia merintih, perlahan mengamini apa yang ku ucapkan, sambil bergumam “aku capek, sungguh aku capek”… air mata ku mengalir!!! merembes, perlahan dengan cepat, dan aku coba menghapusnya, nggak ingin dia melihatku seperti ini, ku baca al matsurat, doa yang diajarkan Rasullulah, temanku mengikuti…dan kami mengamini bersama,
Ya Rabb, diri ini begitu hina, di terpa masalah kecil sudah mengeluh, di beri kesehatan dan rezki tidak mau bersyukur, bagaimana dengan ibu??? kalimat- kalimat zikir tidak pernah lepas dari bibirnya, selalu Husnudzhon walau Allah memberinya cobaan yang berat, teramat berat, anak yang masih kecil- kecil, 3 orang jundi dan suami yang selalu setia mndampinginya hingga saat seperti ini.
Azan mulai terdengar, kami harus pamit, ku lepas perlahan genggamannya, beliau menangis, sambil mengucap “maafkan kesalahan saya ya mbk”, ku katakan padanya, Insyaallah kami akan kesini lagi, dan moga hari itu, ibu lebih baik, dan semakin sehat”.. Allah, bukankah hanya itu yang bisa kami berikan? kalimat penyejuk, penyemangat atau apalah namanya.
Diperjalanan masih terbayang wajah si ibu, hujan deras mengiringi kepulangan kami. Imanku, agamaku, kesehatanku, keluargaku, sahabat- sahabatku, mengapa tidak pernah membuatku bersyukur, syukur yang banyak. Saat seperti ini bukankah sangat tepat untuk berterima kasih pada- Nya? setidaknya tidak melanggar perintah dan menjauhi larangan-Nya??? this is the second lesson.
Ya Rahman, aku akan mencobanya, mencoba untuk bersyukur, atas apa yang ada, aku yakin bisa, dan pasti bisa. Allahumma Amin




