Menjelang magrib… makan mpek- mpek di bawah jembatan dekat stasiun lempuyangan. Kebetulan baru hujan, jadi suasana agak begitu dingin. Kereta api terkadang lewat, membuat jalanan yang biasanya lenggang terasa rame. Pengalaman yang pertama, dulu di ajak cici ku fikir buat apa? menghabiskan waktu dengan percuma, tapi sekarang? kesana hampir menjelang magrib, dan ternyata banyak juga yang nongkrong di sana. Semakin mengasah kepekaan terhadap manusia “papa”, mereka berjualan di pinggir jalan, di bawah jembatan, tentu banyak resikonya. Hujan yang jatuh dari langit, membasahi mereka, tentu semakin menambah penderitaan. Berkurangnya orang yang membeli dagangan mereka. Ku duduk bersama ibu penjual mpek- mpek, ku tanya jam berapa beliau pulang dari berjualan, dia hanya mengatakan tidak tentu, terkadang jam 8 malam atau bisa lebih malam lagi. Ada mbk yang hanya berjualan minuman, teh, segala kopi, susu, dan dia sendiri, hanya sendiri. Dimana orang tua nya yah??? ada juga mas yang berjualan telur puyuh goreng (maaf, aku nggak tahu namanya), begitu sederhana, gerobak kecil yang selalu di pikulnya, dengan peralatan “menggoreng” yang seadanya. Selain mereka masih banyak yang lain juga, dengan jualan yang serba “apa adanya”.
Selain kami masih ada “pengunjung” lain, dengan tujuan yang berbeda, ada yang sekedar mencari jajanan murah, atau sekedar menghitung berapa gerbong kereta yang lewat pada saat- saat tertentu dengan bermain tebak- tebakan dengan temannya, dan jika kalah, aha.. siap- siap merogoh isi kantong untuk mentraktir. Realita sosial L, sebagian besar masyarakat kita hidup dalam kemewahan, bermegah- megahan, pamer kekayaan. memperbanyak harta, tapi sebagian besar lainnya??? hidup dibawah garis kemiskinan. Anak- anak yang seharusnya bersekolah, dipaksa oleh keadaan untuk “belajar dijalanan”, belajar untuk meminta- minta, belajar bersabar ketika uang yang di terima tidak layak untuk di berikan, bersabar untuk tidak mengeluh, dan belajar dalam segala hal, belajar dalam kerasnya kehidupan!!! Ternyata, seiring seringnya kita berinteraksi dengan mereka, melihat dan merasakan penderitaan mereka, semakin mengasah kepekaan kita terhadap mereka, semakin kita sadar, sangat banyak orang yang butuh perhatian dan bantuan kita, secara material!!! mungkin bisa kita sisihkan sebagian “harta” kita untuk mereka, serupiah, bagi mereka sudah cukup. Nggak hanya kita, tapi sebagian besar dari kita J Insyaallah, kemiskinan semakin lama semakin berkurang, lakukan dari sekarang, mulai dari diri sendiri, baru mengharap orang lain akan mengikuti.




