Metamorfosis kehidupanku

Aku menikah!!! Akhirnya aku menikah. Cobaaan beragam yang kulalui dari kecil hingga ku dewasa tetap belum berakhir. Yah beginilah hidup, seperti kata iklan rokok, “hidupilah hidup”…

Aku, seorang perempuan biasa, mendapatkan pria yang luar biasa, perhatian, sayang, soleh, mapan, rupawan, berbagai alasan lainnya yang mendekati hampir kesempurnaan, walau tidak ada yang sempurna di muka bumi ini. Tapi begitulah wanita, apalagi seorang istri, mempersembahkan ap mapun teruntuk suami, pun hanya sekedar pujian kecil.

Sebelum atau pasca menikah, cobaan selalu ada. Prinsip hidup, sifat yang bertolak belakang, kondisi tinggal yang berjauhan, waktu dan materi. Tetapi seiring waktu semua bisa diatasi, walau sedikit riak dan penyimpangan- penyimpangan lainnya beriringan

Matahari….

Aku menikah tanpa tau mertua, menyedihkan memang… tapi inilah resiko kecil ketimbang harus menerima resiko besar karena ketidak sabaran kami dalam menunggu. 3 bulan pasca pernikahan kecilku, sebelum pernikahan yang diketahui semua keluarga suami, aku hidup terpisah dengannya, beliau yang harus bekerja diluar pulau dan aku yang masih kuliah di kota pelajar mengharuskan kami mengambil jalan itu. Satu keyakinan dihati, bahwa kami telah menikah, dan itu adalah hal yang melegakan, karena jarak bukan alasan, yang terpenting, aku miliknya, begitupun sebaliknya.

Tapi semua tidak berjalan mulus, kerikil- kerikil kadang menghalangi jalan yang berkelok- kelok itu, duri yang tertancap kaki, terkadang membuatku meringis dan menangis. Walau kekasihku menghibur dari kejauhan, memberikan semangat agar kami tetap bertahan, tetap bersabar, karena dibalik perpisahan kami, pasti ada sesuatu yang indah menanti… ku pegang kata- katanya, tidak ada lagi yang harus dilakukan kecuali memang bersabar, seperti kata umar “bersabar atau mengeluh, masalah itu tetap ada padamu”…

Seperti dia, akupun melakukan hal yang sama. Ku berikan perhatian semampuku, kasih sayang dan cintaku, ketika dia lelah dan tidak terjaga dalam tidurnya, yang kulakukan hanya bisa memimpikannya, menangisi kerinduan dalam sepinya sang malam. Pun ketika cinta dan gelora merenda, hanya rasa marah yang tumpah, padanya, pada nasib, pada keadaan, setelahnya dia akan kembali menghibur…”istriku, bersabarlah”… begitupun dengan dia, oh suamiku, ingatkah yang kau tuliskan buatku “teramat sangat rindu dirimu sekarang Lapakah kerinduan yang begitu besar ini anugrah ataukah sekedar cobaan, apa yang bisa kuperbuat lagi, yang kuharap malam ini hanya belaianmu, yang kuinginkan malam ini hanya damaimu, sepotong doa kukirimkan untukmu, semoga malam ini tidurmu bermimpikan taman surgawi, ya Rabb satukan kami secepatnya, sungguh ku benar- benar mencintainya”… ku baca ketika terjaga menjelang azan subuh, iba, sedih, menangis, mengapa sepertinya hanya kita yang menderita, oleh cinta, oleh keadaan, uhff suamiku, betapa sangat ku mencintaimu, ku hapus perlahan airmataku, ku tak ingin kau tau, betapa bersedih ku pagi itu….

Hanya Engkau tempat mengadu, kesepian ini, kerinduan ini,cinta yang besar ini, hanya 1, jangan pisahkan kami, sampai kapanpun!!! Ku mohon ya Aziz L

1 Tanggapan sejauh ini »

  1. 1

    Gav berkata,

    Semoga Allah SWT mempersatukan kalian selamanya dalam bingkai cinta dan kasih sayang… Amin


RSS Komentar · URI Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.